
Tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data angka bunuh diri. Disebutkan dalam rilis resmi WHO setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri di dunia. Angka tersebut cukup meresahkan karena kasus bunuh diri lebih banyak terjadi di kalangan remaja.
Menyikapi hal tersebut konselor dari UIN Gus Dur, Izza Himawati menyatakan angka tersebut mengalami peningkatan setelah pandemi. Bahkan Izza menyebutkan ada asumsi yang menyatakan jika tren bunuh diri di kalangan remaja pasca pandemi menjadi sebuah endemi.
Izza menengarai pemicu kasus bunuh diri di kalangan remaja lebih disebabkan oleh gangguan mental dan depresi. Lebih-lebih selama masa pandemi. Pada masa itu situasi memaksa para anak remaja untuk tidak terkoneksi dengan dunia luar. Hal itu memungkinkan pula bagi timbulnya tekanan mental yang berakibat pada gejala depresi.
Izza menambahkan gangguan mental yang dialami remaja selama pandemi merupakan salah satu faktor. Di balik itu masih memungkinkan faktor-faktor lain yang turut memicu kecenderungan remaja untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara yang tidak wajar tersebut. Di antaranya beban ekonomi akibat jerat pinjol maupun masalah-masalah pribadi yang tidak kunjung selesai, perilaku bullying, serta tumpukan masalah yang tidak ditemukan penyelesaiannya.
Untuk alasan itu Izza mengimbau agar keluarga serta orang-orang di dekat para remaja yang mengalami masalah dapat bersikap terbuka dan mampu menjadi tempat berbagi. Para remaja yang bermasalah terkadang hanya memerlukan teman untuk menceritakan segala masalah yang dihadapinya. (Ribut)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4917 |
Hits Hari ini |
: | 2038 |
Pengunjung Online |
: | 1 |