
Industri batik Pekalongan menunjukkan tren yang semakin membaik, setelah sempat terpukul pandemi COVID-19. Salah satu faktor pendorongnya adalah semakin aktifnya generasi muda dalam mengembangkan batik, serta dukungan pemerintah yang membuka peluang pasar ke berbagai negara.
Hal ini disampaikan Wali Kota Pekalongan, Haji Afzan Arslan Djunaid, usai menghadiri acara Indonesia Batik Outlook, sekaligus Launching Festival Batik 3 Kota 2025 di Jakarta, pada Kamis siang, 2 Oktober 2025..
Wali Kota Aaf menjelaskan, anak muda kini tak hanya menjadi konsumen, tetapi juga ikut berkreasi melalui lomba desain batik yang rutin digelar pemerintah daerah. Kreativitas mereka, kata A’af, membuat batik semakin diminati pasar, bahkan lebih baik dibanding sebelum pandemic.
Selain itu, dukungan pemerintah pusat juga memberi angin segar. Melalui Kementerian UMKM dan Kementerian Luar Negeri, batik Pekalongan berkesempatan tampil dalam berbagai pameran internasional, mulai dari Dubai Qatar hingga Hamburg, Jerman.
Meski pasar ekspor batik Pekalongan saat ini baru sekitar 20 persen, namun A’af optimistis peluangnya masih terbuka lebar. Pasar Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Afrika mulai melirik, sementara Eropa meski masih terbatas, sudah mulai mengenal batik melalui ajang seperti Paris Fashion Week.
Namun, Aaf menekankan, kondisi ekonomi nasional tetap menjadi faktor penting, yang mempengaruhi industri batik. Termasuk soal pasokan bahan baku, meski Pekalongan relatif aman karena memiliki sentra pabrik tekstil dan produsen pewarna batik., (Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4803 |
Hits Hari ini |
: | 755 |
Pengunjung Online |
: | 1 |