
Pasar Banjarsari Kota Pekalongan resmi kembali beroperasi sejak Kamis, 25 September 2025, namun para pedagang menghadapi tantangan besar pasca perpindahan dari pasar darurat Sorogenen.
Salah satu pedagang yang merasakan dampaknya adalah Nur Rohmah, penjual daging ayam, yang mengaku penjualannya menurun drastis sejak kembali menempati lapak di pasar lama. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang yang sebelumnya terbiasa dengan ramainya transaksi di lokasi darurat.
Nur Rohmah menjelaskan bahwa sebelum pindah, ia mampu menjual antara 60 hingga 80 kilogram daging ayam di pagi hari, dan 70 hingga 80 kilogram lagi di sore hari. Namun kini, total penjualan hariannya hanya mencapai sekitar 100 kilogram. Penurunan ini dirasakannya cukup signifikan dan berdampak langsung pada pendapatan harian yang semakin berkurang.
Ia juga menyoroti faktor lain yang memperburuk kondisi penjualan, yaitu kenaikan harga ayam dari supplier. Selain itu, keberadaan Program MBG turut memengaruhi harga pasar tradisional, membuat harga ayam semakin mahal. Di tengah kondisi tersebut, daya beli masyarakat pun ikut menurun, sehingga pedagang kesulitan mempertahankan volume penjualan seperti sebelumnya.
Para pedagang kini berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka harus menaikkan harga untuk menutupi biaya operasional yang semakin tinggi. Namun di sisi lain, kenaikan harga justru membuat konsumen enggan membeli dalam jumlah banyak. Situasi ini menuntut strategi baru agar pasar kembali ramai dan pedagang bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi yang ada. (Opix - Ozy)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4943 |
Hits Hari ini |
: | 3252 |
Pengunjung Online |
: | 1 |