
Di tengah riuh sorak ribuan pasang mata, Stadion Jenderal Hoegeng Kota Pekalongan berubah menjadi saksi lahirnya kekuatan baru di sepak bola pelajar. Final Liga Pelajar Indonesia tingkat SMP, 29 November lalu. Bukan sekadar pertandingan, Tapi panggung yang menunjukkan persaingan tahun ini, tetapi benar-benar merata dan tak lagi ada sekolah yang merasa “paling dominan”.
Pertandingan berakhir dramatis, Dua tim yang sama-sama ngotot, SMP Islam Pekalongan dan SMP Negeri 7, harus menentukan nasib lewat adu penalty. Dan dari titik putih itulah, SMP Islam Pekalongan akhirnya tampil sebagai juara pertama. Sementara SMP Negeri 7 harus puas di posisi kedua, disusul SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 6 Pekalongan, di peringkat ketiga dan keempat.
Di balik euforia juara, turnamen ini punya makna lebih besar, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Dinparbudpora, Irwin Andromeda menegaskan, Liga Pelajar Indonesia menjadi ruang penting untuk menemukan bibit-bibit muda sepak bola, yang kelak bisa mengharumkan nama daerah.
Tak hanya itu, Ketua Panitia Liga Pelajar Indonesia, Johanes Lamintang menyebutkan tahun ini sebagai kompetisi paling kompetitif dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran finalis-finalis dengan “wajah baru” menunjukkan bahwa persaingan kini semakin terbuka.
Johanes menambahkan, konsistensi pembinaan di sekolah menjadi kunci. Ia berharap musim depan setiap tim semakin siap, sehingga kualitas pertandingan meningkat dan semakin banyak atlet muda yang bisa muncul dari ajang ini.
Di tengah sorak kemenangan dan rasa bangga yang belum reda, satu hal kini pasti, sepak bola pelajar Pekalongan,sedang memasuki era baru era saat setiap sekolah punya peluang yang sama untuk bersinar., (Adam – Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4919 |
Hits Hari ini |
: | 4384 |
Pengunjung Online |
: | 1 |