Bencana alam masih menjadi ancaman nyata di wilayah Kabupaten Pekalongan, sepanjang tahun 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPD setempat, mencatat sedikitnya ada 119 kejadian bencana terjadi dalam setahun terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto menjelaskan, sebagian besar bencana dipicu faktor cuaca ekstrem. Angin kencang mendominasi dengan 40 kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 31 kejadian, dan banjir 24 kejadian. Sedangkan sisanya berupa bencana kebakaran dan kejadian lain.
Menurut Agus Pranoto, jumlah ini, nyaris sama dengan tahun 2024, yang mencatat 118 kejadian bencana.Namun, perbedaan mencolok terlihat pada dampaknya.
Tahun 2025 tercatat sebagai tahun paling mematikan, setelah longsor besar di Petungkriyono merenggut 26 korban jiwa. Sedangkan pada tahun sebelumnya, dua warga meninggal dunia akibat banjir di Desa Wangandowo.
Kondisi ini menjadi peringatan keras, bahwa bencana tak lagi sekadar merusak, tetapi mengancam nyawa. Sebagai langkah antisipasi, pihak BPBD Kabupaten Pekalongan telah memasang Early Warning System atau EWS di wilayah rawan, yakni Petungkriyono, Kandang Serang dan Tirto.
Sistem ini diharapkan mampu memberikan peringatan dini, sebelum bencana terjadi. Tak hanya mengandalkan alat, BPBD juga memperkuat jejaring sosial kebencanaan. Melalui grup WhatsApp relawan siaga bencana, koordinasi lintas wilayah dapat dilakukan lebih cepat, sehingga penanganan di lapangan bisa lebih sigap dan terkoordinasi.
BPBD juga mengingatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan, untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Karena di tengah cuaca yang kian ekstrem, kesiapsiagaan menjadi kunci utama menyelamatkan nyawa., (Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4919 |
Hits Hari ini |
: | 1098 |
Pengunjung Online |
: | 1 |