
Musim baratan kembali datang, Namun bagi nelayan di Kota Pekalongan, tantangannya kini tak hanya soal cuaca. Jika pada tahun-tahun sebelumnya aktivitas melaut kerap terhenti total, musim penghujan tahun ini justru memperlihatkan dinamika berbeda. Sebagian nelayan masih mampu bertahan dan tetap melaut, di tengah kondisi cuaca yang relatif lebih bersahabat.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia atau HNSI Cabang setempat, Imam Menu mengungkapkan, nelayan dengan kapal besar di atas 30 Gross Ton, masih dapat menjalankan aktivitas penangkapan ikan secara normal.
Namun situasi berbeda dialami nelayan kecil hingga menengah, dengan kapal di bawah 30 Gross Ton. Mereka masih terpaksa menghentikan kegiatan melaut, karena keterbatasan armada yang lebih rentan terhadap kondisi alam.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari kebijakan pemerintah. dimana Aturan Kementerian Kelautan dan Perikanan membatasi kapal besar. agar tidak beroperasi di perairan nol hingga dua belas mil dari garis pantai.
Kebijakan ini juga dibarengi dengan pemotongan, Penerimaan Negara Bukan Pajak atau BNBP sebesar lima persen dari hasil lelang ikan.
Tak berhenti di situ, nelayan juga harus menyesuaikan diri dengan perubahan sistem perizinan, yang kini beralih dari daerah ke pemerintah pusat, serta kewajiban pemasangan Fishing Monitoring System atau FMS.
Kondisi ini membuat nelayan tak hanya dituntut tangguh menghadapi alam, tetapi juga adaptif menghadapi regulasi. Bagi nelayan Pekalongan, musim baratan tahun ini menjadi ujian ganda, antara ombak di laut, dan aturan di darat., (Inez - Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4917 |
Hits Hari ini |
: | 520 |
Pengunjung Online |
: | 1 |