
Meski kualitas air dari sumber penyedia di Kota Pekalongan, telah melampaui target nasional, namun persoalan justru muncul di tingkat rumah tangga. Data Dinas Kesehatan setempat menunjukkan, kualitas air bersih yang dikonsumsi warga, masih jauh dari standar yang ditetapkan oleh pemerintah.
Hasil pengawasan kualitas air sepanjang tahun 2025 mencatat, baru 20 koma 9 persen air rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan. Capaian ini tertinggal dari target nasional sebesar 30 persen, dan menandakan masih lemahnya pengelolaan air bersih di tingkat lingkungan permukiman.
Sanitarian Muda Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Maysaroh menjelaskan, persoalan utama bukan terletak pada sumber air, melainkan pada kondisi instalasi rumah tangga dan sanitasi lingkungan. Banyak jaringan air yang sudah tua, ditambah sistem sanitasi yang belum memadai di sejumlah wilayah.
Ironisnya, meski Kota Pekalongan telah berstatus Open Defecation Free, praktik Buang Air Besar Sembarangan secara tertutup masih ditemukan. Kondisi ini terjadi pada rumah yang memiliki jamban, namun tanpa septic tank. Limbah rumah tangga pun langsung mengalir ke selokan atau sungai, dan berpotensi mencemari air dengan bakteri E Coli.
Maysaroh mengimbau, masyarakat untuk membangun septic tank yang layak, serta melakukan pengurasan secara berkala minimal setiap tiga hingga lima tahun sekali. Upaya ini dinilai krusial, tidak hanya untuk meningkatkan kualitas sanitasi, tetapi juga untuk melindungi kesehatan keluarga dan menjaga keamanan air bersih yang dikonsumsi setiap hari., (Adam- Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4918 |
Hits Hari ini |
: | 96 |
Pengunjung Online |
: | 1 |