
Sampah yang dulu dibuang, kini sudah mulai ditabung. Di Kota Pekalongan, kebiasaan baru warga dalam mengelola sampah perlahan tumbuh, dan mulai memberi dampak nyata.
Bank Sampah Induk Kota Pekalongan mencatat, hingga akhir tahun 2025 operasional pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus berjalan aktif. Jumlah nasabah pun bertambah, menandakan semakin banyak warga yang melihat sampah bukan lagi sebagai beban, melainkan peluang ekonomi.
Direktur Bank Sampah Induk setempat, Abdul Mukti mengungkapkan, sepanjang 2025 jumlah nasabah meningkat sekitar tujuh persen, atau bertambah 255 orang dibanding tahun sebelumnya. Bertambahnya nasabah ini juga diikuti peningkatan volume sampah yang disetorkan.
Abdul Mukti menyampaikan, setoran sampah tidak hanya datang dari warga perorangan, tetapi juga dari instansi, kelurahan, hingga kelompok masyarakat. Meski begitu, kebiasaan memilah sampah dari sumbernya masih perlu diperkuat, agar manfaat ekonomi dan lingkungan bisa dirasakan lebih optimal.
Ke depan, Bank Sampah Induk mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas, termasuk memanfaatkan layanan penjemputan sampah dengan minimal setoran 50 kilogram. Dengan kolaborasi berbagai pihak, sampah di Kota Batik diharapkan benar-benar berubah, dari masalah lingkungan menjadi sumber nilai dan kesejahteraan., (Adam - Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4798 |
Hits Hari ini |
: | 2826 |
Pengunjung Online |
: | 1 |