
Keterbatasan sistem irigasi, masih menjadi tantangan utama, bagi sektor pertanian di Kota Pekalongan, terutama dalam menjaga stabilitas produksi pangan. Letak geografis Kota Pekalongan yang berada di hilir jaringan bendungan, membuat pasokan air menjadi sangat krusial, khususnya saat musim tanam tiba.
Penyuluh Pertanian Kecamatan Pekalongan Utara, Lazim Sofi menjelaskan, Kota Pekalongan berada di ujung aliran tiga bendungan utama, yaitu Bendung Krompeng, Bendung Asemsiketek, dan Bendung Pesantren Kletak. Akibatnya, wilayah ini sering kali hanya menerima aliran air terakhir, saat debit air terbatas, dan sebaliknya, berisiko kelebihan air saat musim hujan.
Menurut Lazim, persoalan irigasi tidak hanya soal ketersediaan air, tetapi juga menyangkut tata kelola saluran, agar aliran bisa dikendalikan secara optimal.
Lazim Sofi mengungkapkan, perbaikan irigasi telah dilakukan sepanjang tahun 2025, melalui dukungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, atas instruksi Presiden, namun, cakupannya masih perlu diperluas, agar seluruh lahan pertanian bisa terlayani secara merata.
Lazim menambahkan, pembenahan sistem irigasi menjadi kunci utama, dalam menjaga produktivitas padi di Kota Pekalongan. Dengan saluran yang berfungsi baik, air dapat dialirkan ke sawah saat dibutuhkan, dan dibuang ke sungai ketika berlebih. Langkah ini penting, untuk melindungi lahan dari ancaman kekeringan maupun banjir, sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah., (Anto - Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4922 |
Hits Hari ini |
: | 408 |
Pengunjung Online |
: | 1 |