
Pengembangan ekowisata pesisir di Kota Pekalongan, kini diarahkan lebih jauh dari sekadar mendatangkan wisatawan. Kawasan mangrove justru diposisikan sebagai benteng alami menghadapi banjir dan rob, sekaligus ruang hidup ekonomi warga.
Team Leader Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia, Anindita Sulistyono menyampaikan, pembangunan ekowisata di Kelurahan Kandang Panjang dan Degayu merupakan bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim.
Program Adaptation Fund ini menyasar penguatan ketahanan masyarakat pesisir, yang selama ini paling terdampak banjir dan rob. Konsep yang dibangun tidak menempatkan warga hanya sebagai penonton, Ekowisata dirancang menjadi penggerak ekonomi lokal.
Anindtai menjelaskan, salah satunya melalui pembangunan restoran yang menyajikan kuliner khas Pekalongan, sekaligus menjadi etalase produk UMKM pesisir. Selain sektor ekonomi, pemulihan lingkungan menjadi fondasi utama. Revitalisasi Pusat Informasi Mangrove atau PIM menjadi bagian penting program ini.
Menurut Anindita Sulistyono, Kemitraan Indonesia mendorong restorasi mangrove, menyusul menurunnya populasi akibat faktor alam. Upaya ini dilakukan dengan melibatkan komunitas peduli lingkungan.
Untuk memastikan keberlanjutan, Kemitraan Indonesia juga memfasilitasi pembentukan dan penguatan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis di dua kelurahan. Kelompok ini diharapkan mampu mengelola ekowisata secara profesional, inklusif, dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, mangrove di Pekalongan tak hanya ditanam. Tetapi dijadikan investasi jangka panjang. Bagi lingkungan, dan bagi masa depan ekonomi masyarakat pesisir., (Adam - Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4750 |
Hits Hari ini |
: | 5574 |
Pengunjung Online |
: | 1 |