
Banjir akibat limpasan dari Sungai Bremi dan cuaca ekstrem, masih merendam sejumlah wilayah Kota Pekalongan, hingga pada Senin pagi, 19 Januari 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat, sedikitnya 2400 warga mengungsi, sementara 8.692 kepala keluarga di empat kecamatan terdampak banjir.
Kepala Pelaksana BPBD setempat, Budi Suheryanto menjelaskan, genangan air masih terjadi di jalan dan permukiman warga, dengan ketinggian sepuluh hingga seratus sentimeter.
Budi Suheryanto mengungkapkan, wilayah terdampak meliputi Pekalongan Timur, Barat, Selatan, dan Utara, dengan Pekalongan Barat menjadi daerah dengan kondisi terparah.
Untuk penanganan darurat, BPBD bersama lintas sektor membuka 24 titik pengungsian, tersebar di aula kecamatan, sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas umum lainnya.
Sementara itu, Wali Kota Achmad Afzan Arslan Djunaid menyampaikan, ada sebanyak 15 pompa, yang tersebar di Sungai Bremi dan Meduri, yang saat ini terus dioptimalkan, untuk mempercepat penurunan debit air.
Wali Kota Aaf menambahkan, banjir kali ini tercatat sebagai yang terbesar, sejak 2021, meski jumlah kelurahan terdampak lebih sedikit, namun dampak yang ditimbulkan jauh lebih luas dan berat., (Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4919 |
Hits Hari ini |
: | 2844 |
Pengunjung Online |
: | 1 |