
Meski jumlah di awal tahun 2026, kasus Demam Berdarah Dengue atau DBD cenderung menurun, namun DBD masih menjadi ancaman serius di wilayah Kota Pekalongan.
Dinas Kesehatan setempat mengimbau, masyarakat di seluruh kelurahan untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes Aegypti ini.
Epidemiolog Muda Dinas Kesehatan, Opik Taufiq menjelaskan, pada tahun 2025 tercatat 24 kasus DBD yang tersebar di 14 kelurahan. Dari jumlah tersebut, satu warga meninggal dunia di Kelurahan Jenggot, akibat keterlambatan penanganan medis.
Peningkatan kasus pada tahun lalu, dipicu oleh kondisi cuaca yang tidak menentu, dengan hujan dan panas yang silih berganti, sehingga mempercepat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.
Seangkan pada tahun 2026, intensitas hujan yang lebih tinggi, hal ini justru membuat jumlah kasus menurun, karena hujan yang turun terus menerus, menghambat pertumbuhan nyamuk penyebar DBD.
Memasuki awal tahun 2026, khususnya sepanjang bulan Januari, Dinas Kesehatan mencatat enam kasus DBD yang muncul di sejumlah wilayah, di antaranya Kuripan Kertoharjo, Padukuhan Kraton, Podosugih, Banyurip, dan Kauman. Salah satu kasus di Kelurahan Banyurip, menimpa seorang anak warga Krapyak yang sedang mondok di wilayah tersebut.
Selain itu, terdapat satu kasus tambahan di wilayah Pasir Kraton Kramat. Namun hingga kini, petugas belum dapat menjangkau lokasi karena kondisi wilayah yang masih terdampak banjir. Untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, [ihak Dinas Kesehatan telah melakukan fogging di lokasi-lokasi yang terdeteksi kasus DBD.
Petugas kesehatan juga terus memantau wilayah yang masih tergenang banjir, serta menyiagakan layanan kesehatan selama 24 jam, guna memastikan penanganan cepat bagi warga yang mengalami ganguan kesehatan.. (Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4916 |
Hits Hari ini |
: | 4789 |
Pengunjung Online |
: | 1 |