
Kota Pekalongan masih menghadapi tantangan serius dalam kesehatan ibu dan anak. Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan setempat mencatat 6 kasus kematian ibu, atau meningkat satu kasus dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan, Puji Winarni menyampaikan, mayoritas ibu yang meninggal berada pada usia di atas 35 tahun. Dari enam kasus tersebut, empat di antaranya berkaitan dengan kondisi kehamilan berisiko, yang dikenal dengan istilah empat T, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu banyak melahirkan.
Menurut Puji Winarni, secara angka, rasio kematian ibu di Kota Pekalongan tercatat 168 per 100 ribu kelahiran hidup, naik dari sebelumnya 129 per 100 ribu kelahiran hidup. Dua kasus kematian ibu disebabkan oleh hipertensi, satu kasus akibat komplikasi kehamilan, sementara tiga kasus lainnya terjadi karena komplikasi di luar masa kehamilan.
Di sisi lain, kabar positif datang dari angka kematian bayi dan balita. Pada tahun 2025, angka kematian bayi menurun dari 42 kasus menjadi 36 kasus, atau berkurang enam kasus. Sementara itu untuk angka kematian balita, juga mengalami penurunan signifikan, dari 65 kasus di tahun 2024 menjadi 54 kasus di tahun 2025, berkurang sebelas kasus.
Kepada Radio Kota Batik Kepala Dinkes Puji Winanri mengungkapjan, kematian bayi umumnya disebabkan oleh penyakit penyerta, yang dialami sejak awal kehidupan.
Ke depan, pihak Dinas Kesehatan Kota Pekalongan berkomitmen, akan memperkuat layanan kesehatan ibu hamil. meningkatkan deteksi dini risiko kehamilan melalui pemeriksaan kesehatan Ibu Hamil rutin, serta memperluas edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat., (Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4827 |
Hits Hari ini |
: | 982 |
Pengunjung Online |
: | 1 |