
Museum Batik Kota Pekalongan kembali menghadirkan pameran tematik dalam rangkaian Lunar Festival 2026, yang kali ini difokuskan pada anatomi batik peranakan. Acara ini menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat bagaimana unsur budaya Tionghoa menyatu dalam batik pesisir, sebuah ciri khas Kota Batik yang telah berkembang selama berabad-abad.
Kurator Museum Batik, Gavi, menjelaskan bahwa sedikitnya sembilan koleksi utama ditampilkan dengan menonjolkan pengaruh estetika Tiongkok. Beberapa karya yang menjadi sorotan antara lain Batik Tokwi, Batik Buketan atau Encim, serta Batik Lokcan. Menurutnya, perjumpaan budaya ini terlihat jelas pada penggunaan warna mencolok dan ornamen dekoratif seperti Burung Hong serta simbol keberuntungan, yang dipadukan dengan teknik membatik lokal.
Pameran ini semakin istimewa dengan adanya instalasi meja altar asli dari Klenteng Po An Thian, yang difungsikan sebagai media display untuk kain Batik Tokwi. Kehadiran altar tersebut memberi pengalaman visual yang autentik, sehingga pengunjung dapat merasakan nuansa spiritual sekaligus estetika yang melekat pada batik peranakan.
Antusiasme masyarakat, terutama kalangan muda, terlihat dari ramainya unggahan di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa batik peranakan tetap relevan dan diminati lintas generasi. Sebagai warisan budaya yang lahir dari keberagaman tradisi, batik peranakan tidak hanya menjadi simbol identitas Pekalongan, tetapi juga jembatan yang memperkuat harmoni antarbudaya di Indonesia. (Anto - Ozy)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4882 |
Hits Hari ini |
: | 3451 |
Pengunjung Online |
: | 1 |