
Kabar baik datang dari pengawasan takjil Ramadan di wilayah Kota Pekalongan. Dari 200 sampel yang diuji, tak satu pun ditemukan mengandung formalin. Namun, di balik capaian itu, muncul temuan yang perlu diwaspadai. Dinas Kesehatan Kota Pekalongan mencatat adanya peningkatan penggunaan boraks pada sejumlah jajanan.
Sanitarian Muda Dinkes setempat Maysaroh mengungkapkan, enam sampel dinyatakan positif mengandung boraks. Di antaranya siomay, cincau, scallop, hingga basreng.
Secara persentase, angka temuan zat berbahaya tahun ini mencapai 3,5 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di kisaran satu persen.
Maysaroh menduga, peningkatan ini terjadi karena masih adanya pedagang, yang menganggap garam bleng sebagai bahan aman. Padahal, bahan tersebut mengandung boraks yang berisiko bagi kesehatan.
Sementara itu, petugas juga menemukan satu sampel kerupuk usek berwarna merah muda, yang positif mengandung pewarna tekstil Rhodamin B, temuan yang sama seperti tahun sebelumnya.
Dinkes mengimbau pedagang lebih berhati-hati, dalam memilih bahan tambahan pangan, agar takjil yang dijual benar-benar aman dikonsumsi masyarakat., (Adam - Dirhamyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4917 |
Hits Hari ini |
: | 144 |
Pengunjung Online |
: | 1 |