Peluncuran Antologi Puisi Tadarus Cahaya Jiwa
Diposting Oleh: Admin RKB

Puisi sebagai Jalan Sunyi Menyapa Nurani
Tepat di pertengahan bulan Ramadan adalah malam sastra yang khidmat dan penuh makna berlangsung di Hotel Grand Dian Pekalongan dengan diluncurkannya buku antologi puisi “Tadarus Cahaya Jiwa”, sebuah karya kolaboratif yang menghadirkan suara-suara spiritual dari berbagai lapisan masyarakat dari Indonesia juga ada yang dari Singapura.
Bagi para penyair dan pencinta sastra yang hadir, membaca puisi bukan sekadar melafalkan kata. Puisi adalah bisikan yang menjelma, merasuk ke dalam kalbu, menyusuri ruang-ruang batin manusia untuk menghidupkan kesadaran, keheningan, dan makna terdalam dari kehidupan.
Peluncuran buku ini berawal dari obrolan sederhana yang kemudian berkembang menjadi gagasan besar. Ide tersebut lahir dari perbincangan antara Hanif Dhakiri, Nasrul Aji, dan Najibul Mahbub yang kemudian diwujudkan melalui kolaborasi dalam workshop penulisan puisi religius sekaligus proses penyusunan buku antologi.
Buku “Tadarus Cahaya Jiwa” hadir sebagai karya monumental setebal 480 halaman, memuat puisi dari beragam latar belakang penulis: mulai dari penyair internasional, penyair nasional, hingga calon-calon penyair muda yang saat ini masih duduk di bangku madrasah. Antologi ini juga mempertemukan suara para guru, dosen, pejabat, wartawan, serta berbagai profesi lainnya yang disatukan oleh kecintaan pada sastra dan spiritualitas.
Acara peluncuran yang diselenggarakan bersama Sahada Institut ini berlangsung meriah sekaligus reflektif. Para peserta menikmati rangkaian acara yang berlangsung hingga pukul 00.30 WIB, menampilkan pembacaan puisi, refleksi kebudayaan, serta dialog sastra yang menggugah.
Salah satu momen yang berkesan adalah orasi budaya dan pembacaan puisi oleh penyair Internasional Sosiawan Leak yang menghadirkan nuansa kontemplatif bagi para hadirin. Malam tersebut juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Emha Jayabrata dan Najibul Mahbub yang menghadirkan energi estetika sekaligus spiritual dalam setiap bait yang dilantunkan.
Ketua Lesbumi Kota Batik, Najibul Mahbub, menegaskan bahwa lahirnya buku ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi spiritualitas dalam sastra.
“Puisi adalah cara paling halus untuk merawat jiwa bangsa. Dalam puisi, kita belajar mendengar nurani, merawat kepekaan, dan menjaga kemanusiaan. Tadarus Cahaya Jiwa adalah ikhtiar agar sastra tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi jalan perenungan bagi generasi muda,” ujarnya.
Sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia MA Kota Pekalongan, Najibul Mahbub juga menekankan pentingnya ruang kreatif bagi pelajar dan guru dalam dunia sastra.
“Antologi ini menunjukkan bahwa puisi tidak mengenal usia maupun profesi. Dari siswa madrasah hingga penyair berpengalaman, semua dipertemukan dalam satu cahaya yang sama: cinta pada kata dan makna. Kami berharap gerakan literasi seperti ini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka secara batin.”
Sementara itu, Hanif Dhakiri dalam sambutannya menyampaikan bahwa seni dan sastra memiliki posisi penting dalam kehidupan berbangsa, termasuk dalam dunia politik.
“Politik tidak boleh terpisah dari seni dan sastra. Politik mengatur kehidupan publik, sementara sastra menjaga nurani publik. Jika politik kehilangan sastra, ia akan kering dari rasa. Karena itu, dukungan terhadap kegiatan kebudayaan seperti ini adalah bagian dari tanggung jawab kita untuk menjaga kemanusiaan dalam kehidupan bernegara.” Ucap Hanif Dhakiri dalam sambutan yang juga sebagai ajang Silaturahmi dengan Sahabat Hanif Dhakiri (Sahada_red).
Dukungan dari M. Hanif Dhakiri selaku Wakil Ketua Komisi XI DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa menjadi wujud komitmen bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada ekonomi dan kebijakan, tetapi juga pada kekuatan kebudayaan dan literasi.
Najibul Mahbub menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, termasuk para penyair, peserta workshop, serta komunitas sastra yang turut meramaikan peluncuran buku.
Lebih dari sekadar peluncuran buku, malam itu menjadi perayaan lahirnya cahaya-cahaya kata, cahaya jiwa, dan cahaya harapan bagi masa depan sastra Indonesia.
“Karena puisi, pada akhirnya, bukan sekadar kata yang dibaca
melainkan cahaya yang menuntun manusia kembali pada jiwanya.”






Pengunjung Hari ini
Total Pengunjung
Pengunjung Online