
Museum Batik Pekalongan menyoroti tantangan pelestarian sejarah local, di tengah gempuran teknologi informasi, yang kini mendominasi keseharian generasi muda. Kekhawatiran ini muncul karena kedalaman makna sejarah, yang tersimpan dalam kain batik dan naskah kuno , perlahan mulai terlupakan akibat pergeseran kebiasaan masyarakat ke ranah digital .
Kepala Museum Batik Pekalongan , Nurhayati Sinaga menyampaikan, saat ini orang lebih mudah membaca kitab suci, melalui ponsel pintar daripada mempelajari jejak fisik peradaban masa lalu .
Melalui pameran kolaborasi yang menghadirkan naskah kuno abad ke-18 , pihak museum berupaya membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat, agar memahami bahwa jati diri bangsa tersimpan dalam arsip-arsip peradaban yang nyata .
Nurhayati menegaskan, kebanggaan sebagai warga lokal harus dimulai, dengan mengenal akar sejarah dan literasi yang dimiliki daerah sendiri. Dengan memahami bahwa Pekalongan memiliki sejarah keberagaman, yang harmonis sejak ratusan tahun lalu, diharapkan masyarakat dunia dapat melihat batik bukan sekadar produk mode , melainkan kitab sejarah yang terus hidup melintasi zaman ., (Anto - Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4826 |
Hits Hari ini |
: | 951 |
Pengunjung Online |
: | 1 |