
Tradisi Syawalan di Kota Pekalongan kembali berlangsung meriah dengan pemotongan Lopis Raksasa di kawasan Krapyak, Sabtu, 28 Maret 2026. Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan penganan khas berbahan dasar ketan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan. Tahun ini, Lopis hadir dengan ukuran fantastis, seberat 2 ton 83 kilogram dan tinggi mencapai 239 sentimeter, menjadikannya salah satu yang terbesar sepanjang sejarah perayaan.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, menyampaikan bahwa ukuran Lopis tahun ini merupakan simbol kerja keras panitia serta antusiasme luar biasa dari masyarakat. Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar pesta kuliner, melainkan juga wujud kebersamaan warga dalam menjaga budaya lokal. Kehadiran Lopis Raksasa menjadi daya tarik utama yang memperkuat identitas Pekalongan sebagai Kota Batik yang kaya akan tradisi.
Dalam momentum tersebut, Wali Kota juga mengusulkan agar panitia mengirimkan potongan Lopis kepada warga di wilayah Pasirsari dan sekitarnya yang masih terdampak banjir. Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan kebahagiaan dan rasa kebersamaan, sehingga masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan tetap dapat merasakan suasana Syawalan. Pesan solidaritas ini menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah terhadap warganya.
Ke depan, pemerintah kota berencana mendaftarkan sejumlah kuliner khas lainnya, seperti Soto Tauto, agar mendapatkan pengakuan serupa sebagai warisan budaya. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat identitas Pekalongan di tingkat nasional maupun internasional. Wali Kota menegaskan bahwa tradisi tahunan Syawalan harus terus dijaga sebagai sarana mempererat kerukunan antarwarga sekaligus doa bersama agar Kota Pekalongan dijauhkan dari berbagai musibah bencana. (Anto - Ozy)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4802 |
Hits Hari ini |
: | 3218 |
Pengunjung Online |
: | 1 |