Warisan Seabad di Ujung Jalan: Dilema Regenerasi Batik Oey Soe Tjoen
Diposting Oleh: Admin RKB

PEKALONGAN - Usia seratus tahun yang genap diraih pada 2025 lalu, semestinya menjadi tonggak kebanggaan bagi batik tulis Oey Soe Tjoen. Namun di tengah perayaan sejarah panjang tersebut, justru muncul kegelisahan: siapa yang akan melanjutkan tradisi ini?
Isu krusial itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Oey Soe Tjoen: Bertahan Melintasi Zaman” yang digelar Kulturpedia di Saji Space Pekajangan, Kedungwuni, Minggu, 29 Maret 2026. Diskusi yang dihadiri penulis buku, pegiat budaya, hingga keluarga besar Oey Soe Tjoen ini menjadi ruang refleksi atas masa depan batik tulis legendaris tersebut.
Melalui pemutaran film dokumenter pembuka, peserta diajak menelusuri perjalanan Batik Oey Soe Tjoen sejak dirintis pada 1925 hingga kini. Namun bukan hanya nostalgia yang tersaji film itu juga menyentil kenyataan bahwa produksi batik ini berpotensi akan berhenti, jika tidak ada generasi penerus.
Nanang Rendi Ahmad penulis buku tentang Oey Soe Tjoen, menegaskan bahwa dokumentasi sejarah ini lahir dari kegelisahan yang sama. Fakta bahwa keluarga belum memiliki penerus menjadi alasan kuat mengapa kisah batik ini perlu diabadikan.
Sementara itu, Widianti Widjaja, cucu pendiri sekaligus generasi ketiga, menyampaikan pandangan yang cukup tegas. Menurutnya, menghentikan produksi justru menjadi pilihan paling realistis jika tidak ada penerus yang memiliki komitmen menjaga kualitas.
Baginya, mempertahankan nama besar tanpa standar yang sama justru berisiko merusak warisan. Ia pun mengaku tidak memaksakan anak-anaknya untuk melanjutkan usaha keluarga yang telah dikenal luas tersebut.
Diskusi berlangsung hangat dengan partisipasi beragam kalangan, mulai dari mahasiswa hingga komunitas. Antusiasme ini menunjukkan bahwa Batik Oey Soe Tjoen bukan sekadar produk, melainkan bagian dari identitas budaya yang memiliki tempat di hati masyarakat.
Menariknya, pendekatan edukasi yang dilakukan Kulturpedia tak hanya berhenti di ruang diskusi. Melalui kegiatan “Historide”, peserta diajak menyusuri jejak sejarah dengan bersepeda ke sejumlah lokasi penting, termasuk rumah Batik Oey Soe Tjoen dan rumah Hoo Tjien Song.
Rumah tersebut menjadi saksi bisu masa sulit tahun 1947, saat keluarga Oey Soe Tjoen harus mengungsi akibat situasi politik yang tidak menentu pada masa Bersiap. Bagi peserta, pengalaman ini memberikan cara baru memahami sejarah lebih dekat, lebih hidup, dan jauh dari kesan membosankan.
Ketua Panitia Saeful Anwar menyebutkan, pendekatan seperti ini diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran sejarah yang lebih kontekstual dan menyenangkan, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya.
Kini, di tengah apresiasi yang terus mengalir, Batik Oey Soe Tjoen justru dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan tanpa penerus, atau berhenti demi menjaga marwah kualitas. Sebuah dilema yang tak hanya menjadi urusan keluarga, tetapi juga menyangkut nasib salah satu ikon batik Indonesia. (Dirhamsyah)







Pengunjung Hari ini
Total Pengunjung
Pengunjung Online