
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini berada di atas Rp18.000 per dolar AS turut berdampak pada aktivitas transaksi dan investasi di pasar modal. Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih bersikap lebih hati-hati dan menunda pembelian instrumen investasi seperti saham, obligasi, maupun reksadana hingga nilai tukar kembali stabil.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk wilayah Jawa Tengah I, Fanny Rifqi El Fuad, menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investor. Ketidakpastian kondisi ekonomi global membuat banyak pelaku pasar memilih menunggu perkembangan situasi sebelum melakukan investasi dalam jumlah besar.
Selain pelemahan rupiah, pergerakan pasar modal juga dipengaruhi sejumlah faktor lain. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun lebih dari 20 persen sejak awal tahun hingga awal Juni 2026. Namun, penurunan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Faktor geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga komoditas global juga turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan.
Fanny menambahkan, kondisi pelemahan rupiah saat ini juga mendorong sebagian investor asing melakukan aksi jual saham di pasar domestik. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan investasi secara terburu-buru. Menurutnya, investor perlu memperhatikan kondisi fundamental perusahaan serta prospek jangka panjang sebelum menentukan langkah investasi di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung. (Ozy)







Pengunjung Hari ini |
: | 1 |
Total Pengunjung |
: | 4870 |
Hits Hari ini |
: | 6240 |
Pengunjung Online |
: | 1 |